Powered By Blogger

Rabu, 07 Desember 2011

Istri Imam Merasa Terancam



MAKASSAR, FAJAR--Dugaan pembunuhan mantan Kacab Merpati Makassar, Imam Bagus Nugroho menghantui perasaan istrinya, Andi Indria Safitri Rukman. Yakin suaminya tewas tidak wajar, wanita berusia 26 tahun ini pun merasa keselamatannya terancam.
Bahkan kekhawatiran akan keselamatan dirinya itu telah disampaikan Indria kepada penyidik Polrestabes Makassar. Saat ini, Indria masih berada di rumah mertuanya atau rumah suaminya di Bogor yang sudah memasuki hari ketujuh. Indria sendiri berjanji baru bisa menghadiri pemeriksaan polisi setelah mengikuti tahlilan hari ketujuh kematian suaminya.
Adanya kekhawatiran Indria atas keselamatan jiwanya itu dibenarkan Wakasatreskrim Polrestabes Makassar, Kompol Anwar Hasan Selasa, 6 Desember. Namun pihaknya berharap agar istri korban ini tidak perlu terlalu khawatir dengan keselamatan dirinya.
"Kalau memang ada kekhawatiran seperti itu, polisi siap melakukan antar jemput dalam rangka pemeriksaan. Misalnya kalau dari Bogor dan sampai di sini, tinggal disebutkan tempatnya. Polisi siap menjemput begitu juga mengantar pulang," kata Anwar.
Yang pasti, kematian Imam ini memang diwarnai misteri dan keganjilan. Bukan tidak mungkin, peristiwa meninggalnya korban ini memiliki hubungan dengan kesehariannya. Informasi yang diperoleh penyedik menyebutkan bahwa ada kebiasaan korban termenung sebelum korban ditemukan tewas di rumahnya.  
Sementara itu, hasil autopsi yang dilakukan dokter forensik Unhas sejauh ini belum ada kepastian kapan bisa dibeberkan. Penyidik sejauh ini masih terus melakukan koordinasi dengan dokter forensik, namun hasilnya belum ada kejelasan. "Kita ingin secepatnya sudah ada hasil autopsi. Karena ini sebenarnya yang sangat menentukan untuk memastikan penyebab kematian korban," jelas Anwar.
Begitu juga, hasil rumus sidik jari yang ditemukan polisi di rumah korban juga belum bisa disimpulkan siapa pemilik sidik jari tersebut. Makanya, hingga saat ini kematian mantan Kacap Merpati ini masih menjadi misteri bagi keluarga dan masyarakat.
Yang pasti menurut Anwar, hasil autopsi dokter nantinya akan mementukan spekulasi kematian korban. "Kalau orang meninggal karena tergantung, tentu hasil autopsinya akan berbeda kalau dia mati lebih dulu, kemudian lehernya diikat seolah-olah dia gantung diri," jelas Anwar. (hamsah umar)          

3.696 Pengendara Terjaring Razia Zebra


MAKASSAR, FAJAR--Tingkat pelanggaran lalu lintas di Sulsel tinggi. Ini dilihat jumlah pengendara sepeda motor yang terjaring razia selama sepuluh hari terakhir pelaksaan operasi zebra di jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Sulsel, yang menjaring sedikitnya 3.696 pengendara sepeda motor.
Kondisi ini dipaparkan Direktur Ditlantas Polda Sulsel, Kombes Yudi Amsyah bersama Wakasatlantas Polrestabes Makassar, Kompol Ismail Husein dan Kasat PJR Ditlantas Polda Sulsel, AKBP Feranis di warkop Phoenam, Selasa, 6 Desember. "Angka pelanggaran lalu lintas ini cukup signifikan," kata Yudi.
Dari ribuan pelanggaran lalu lintas selama operasi zebra ini, rata-rata pelanggaran yang dilakukan pengendara adalah kelengkapan surat tidak ada sebanyak 735, pelanggaran rambu lalu lintas hingga 452 kasus, dan sejumlah pelanggaran lainnya. 
Adapun pelaku pelanggar lalu lintas  dilihat dari status pekerjaan terbanyak dari kalangan karyawan swasta sebanyak 1.568 kasus serta pelajar dan mahasiswa mencapai 1.071 kasus. Sementara dari kelompok umur tertinggi antara 21-30 tahun. "Selama operasi zebra ini, jumlah pengendara sepeda motor yang terlibat kecelakaan mencapai 29 kasus, dengan jumlah korban meninggal 10 orang," tambah Yudi.
Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya kecelakaan lalu lintas di Sulsel ini, karena volume kendaraan cukup padat sementara kondisi jalan tidak banyak mengalami perubahan. Yudi menyebutkan, volume kendaraan di Sulsel bertambah hingga 25 ribu setiap bulannya.
Sementara di wilayah kota Makassar, jumlah pelanggaran lalu lintas selama operasi zebra mencapai 1.081 pelanggaran. Pelanggaran tertinggi dari kelengkapan surat-surat kendaraan, kelengkapan kendaraan, serta rambu jalan.
Adapun jenis kendaraan yang terbanyak melanggar masih didominasi sepeda motor sebanyak 897 kasus, truk 83 kasus, dan kendaraan penumpang sebanyak 76 kasus. "Jadi sopir angkutan umum masih lebih tertib dibanding pengemudi truk," kata Ismail.
Ironisnya, di Makassar ini pengendara sepeda motor yang terbanyak melakukan pelanggaran lalu lintas adalah warga yang sudah berusia 31-50 tahun yang mencapai angka 418 kasus, sedang usia 21-30 tahun mencapai 327 kasus. Operasi zebra ini sendiri masih akan berlangsung hingga sepekan mendatang. (hamsah umar)          
             

Polisi Tahan Penyedia Judi Online


MAKASSAR, FAJAR--Pemilik warnet 999 di kompleks Bulusaraung Square Blok B4 Makassar, Joni dan dua karyawannya, Agung dan Aries Kristanto ditahan penyidik Polrestabes Makassar setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus judi online. 
Dalam kasus judi ini, polisi sebenarnya menetapkan lima orang tersangka. Dua orang lainnya adalah pemain judi online bernama Ariansi T dan Ahmad Johari. Hanya saja, kedua pemain judi ini sekadar wajib lapor. Kelima penyedia jasa judi online dan pemain judi ini ditangkap polisi Minggu lalu. 
Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Himawan Sugeha membenarkan penangkapan kasus judi online tersebut. Mereka ditangkap saat polisi melakukan operasi dan penggerebekan terhadap warnet yang diketahui menyediakan jasa judi online ini.
Modus operandi warnet yang menyediakan judi online kepada pelanggannya itu, berupa permainan sky menggunakan sebuah kartu. Setiap pemain membeli kartu sebesar Rp50 ribu dengan nilai Rp5.000. 
"Kartu inilah yang digunakan pemain untuk menebak gambar yang ada dalam komputer yang tersambung internet. Sistemnya, kalau tebakan salah maka poin bisa hilang seluruhnya. Sebaliknya kalau menang bisa mendapat voucher ratusan ribu hingga jutaan," kata Himawan.
Dalam kasus ini, Himawan menegaskan bahwa kelima tersangka dijerat dengan Pasal 303 KUHP tentang Perjudian dengan ancaman hukuman di atas lima tahun bagi penyedia jasa judi, sementara pemain judi diancam penjara maksimal 4 tahun. (hamsah umar)  

Senin, 05 Desember 2011

Ke Filipina tak Perlu Paspor, Cukup Surat Jalan


*Catatan dari di Perbatasan Indonesia-Filipina (1)

PERBATASAN sebuah negara memiliki ciri khas dan cerita tersendiri, baik  menyangkut ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga hubungan antarnegara.

HAMSAH MIANGAS-MARORE
WILAYAH Sulawesi utamanya Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) merupakan salah satu provinsi, yang memiliki wilayah yang berbatasan langsung dengan Filipina, khususnya Filipina bagian selatan. 
Bicara soal wilayah perbatasan, tentu banyak menyita bahkan menarik perhatian masyarakat sekalipun sekadar mengetahui kondisi masyarakat atau keamanan di wilayah perbatasan ini. Sadar atau tidak, kondisi kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan selalu mengundang keprihatian bahkan perdebatan.
Apalagi, kalau wilayah perbatasan ini menjadi wilayah yang kurang diperhatikan pemerintah. Dan itulah salah satu fakta ril yang terjadi di wilayah perbatasan. Sebut saja misalnya perbatasan Indonesia-Filipina.
Di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina, dimana letak geografis Indonesia masuk wilayah Sulawesi Utara terdapat banyak pulau yang berbatasan dengan Filipina. Boleh jadi, tidak banyak yang tahu kalau wilayah  perbatasan Indonesia-Filipina ini terdiri dari tiga kabupaten yakni Kabupaten Sangihe, Talaud, dan Sitaro. 
Kabupaten terluar di Sulut ini masih terdiri dari sejumlah pulau kecil yang yang berpenghuni maupun tanpa penghuni. Namun dari tiga kabupaten kepulauan terluar ini, hanya wilayah Talaud dan Sangihe yang memiliki pulau berdekatan dengan Filipina Selatan seperti Tibanbang-Davao dan Batu Gandeng-Mindanao.
Dua wilayah ini berbatasan dengan Miangas-Talaud dan Marore-Sangihe. Daerah terdekat dengan  Filipina adalah Marore. Dari kepulauan ini, warga cukup menghabiskan waktu sekitar dua jam menggunakan kapal long pamboat menurut nelayan perbatasan, atau kapal jenis Pusu (istilah nelayan Filipina). Kalau di Makassar, kapal jenis ini setara dengan kapal Katinting yang berkapasitas penumpang hingga 15 orang. 
Sementara dari Miangas ke Filipina dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam. Namun dibanding dari Pelabuhan Bitung, jarak tempuh tersebut jauh berbeda, karena membutuhkan waktu dua sampai tiga hari. Bahkan kalau menggunakan kapal perintias, harus menempuh perjalanan empat hari apalagi kapal singgah disetiap pulau.    
Dari Marore dan Miangas, Filipina bagian selatan ini memang sudah terlihat jelas. Bahkan pada malam hari, di wilayah kekuasaan Moro ini, lampu penerangan terlihat jelas. 
Di wilayah perbatasan ini, setidaknya ada enam pulau yang menjadi wilayah pengawasan Kodam VII/Wirabuana yakni Marore, Kawaluso, Matutuang, Tinakareng, Miangas, dan Marampit. Di pulau ini, sedikitnya 103 tiga prajurit TNI ditugaskan melakukan pengamanan perbatasan.
Hubungan kekeluargaan masyarakat pulau terluar utamanya Marore dan Miangas dengan warga Fhilipina ini terbilang dekat. Ada beberapa warga Indonesia yang memiliki  saudara di Filipina. Baik bekerja sebagai nelayan, pekerja swasta, hingga aparat pemerintahan. 
Bagi masyarakat Indonesia atau sebaliknya yang ingin ke Filipina, begitu juga warga Filipina yang ingin ke Indonesia di pulau perbatasan ini, warga tidak perlu mengurus paspor, cukup minta surat jalan di kantor Imigrasi kemudian melapor ke kantor perwakilan Border Crossing Agreement (BCA) Filipina. 
"Biaya pengurusan surat jalan hanya Rp10 ribu per orang dan Rp15 ribu untuk keluarga. Untuk tukar menukar uang Rupiah dengan Peso bisa di kantor BCA," kata Kepala Pos Imigrasi Miangas, Kenangan Lupa.
Pabandy Renops Kodam VII/Wirabuana, Letkol Vipy menjelaskan bahwa keberadaan BCA sebagai perwakilan Filipina di Indonesia (Marore-Miangas), dimaksudkan untuk mengakomodir warga Indonesia yang memiliki hubungan keluarga di Filipina. "Warga Indonesia di Filipina bagian selatan banyak baik nelayan, petani, dan lainnya. Makanya ada kerja sama ini," kata Vipy.
Di Filipina, Indonesia juga memiliki perwakilan BCA. Warga Filipina yang akan melakukan visit family di Indonesia juga harus melapor di kantor BCA perwakilan Indonesia. "BCA ini dalam setahun melakukan rapat tiga  kali. Dimulai sidang  steering committee, sidang wakil ketua, dan sidang ketua. Di Indonesia, ketua BCA adalah Pangdam sendiri," kata Vipy. 
Petugas BCA Filipina, Master Sarjen Bolasoc yang ditemui di Marore mengaku sudah dua tahun terakhir melayani warga Indonesia yang hendak ke Filipina. Dia mengaku cukup senang dengan kerja sama yang terjaling baik dengan warga Indonesia selama ini. "Masyarakat di sini cukup baik kerja samanya. Saya sudah dua tahun di sini (Marore)," kata Bolasoc.   (**)        

Tewas Saat Menanti Kelahiran Anak


PETAKA ambruknya tembok pembatas perumahan elit The Mutiara menyisakan duka dalam bagi keluarga korban. Selain kehilangan rumah, sebagian anggota keluarga mereka juga meninggal mengenaskan.
Cerita duka yang dialami para korban ini diwarnai banyak cerita. Salah satunya adalah Hadiah (29). Warga Sukadamai yang merantau dari kampung halamannya, Pattalassang-Takalar ini juga meninggalkan cerita duka tersendiri. Maklum, korban yang turut tewas ini sedang menanti kelahiran anak pertamanya.
Hadiah memang diketahui sedang hamil besar. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh. Bahkan untuk kondisi darurat, bayi yang turut meninggal itu bisa saja diselamatkan kalau ada tindakan cepat atau tindakan lain yang ditempuh petugas medis. 
Menurut cerita tetangga dan keluarga dekat Hadiah, korban yang meninggal ditempat karena tertimpa tembok ini sempat dilarikan ke RS Faisal. Setelah dipastikan meninggal, korban dibawa pulang ke rumah keluarganya di Jalan Sukaria 11 Makassar.
Saat itu, janin berusia 7 bulan milik korban ini masih sempat bergoyang di dalam perut ibu malang ini. Keluarga sempat memanggil bidang untuk menyelamatkan bayi itu, namun upaya tersebut sia-sia. Bayi tersebut sudah tidak bereaksi lagi dengan kondisi perut Hadiah sudah mengeras.
Hadiah adalah putri tunggal pasangan Daeng Sadong dan Daeng Asi. Selama ini, dia menjadi tenaga sukarela di SMP/SMA Saribuana sebagai staf perpustakaan. Makanya, sebelum mayatnya dikebumikan di Takalar, banyak anak sekolah yang melayat ke rumah keluarganya.
Saat terjadi bencana, Hadiah bersama kedua orang tuanya, Sadong dan Asi. Namun kedua orang tuanya ini selamat karena saat tembok ambruk, keduanya ada di luar rumah memungut sampah. "Saat saat itu ada diluar," kata Sadong.
Dia menceritakan saat kejadian berlangsung, dirinya tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Apalagi reruntuhan tembok sangat besar. Ambruknya tembok ini  mengakibatkan kaki dan paha Hadiah patah. "Namun bukan itu yang mengakibatkan dia meninggal. Sebuah balok menindis lehernya ditambah lagi tembok. Bahkan balok itu bengkok," kata Sadong.
Menurut keterangan sejumlah keluarganya, Hadiah baru saja ditinggal suaminya usai lebaran Iduladha lalu. Suami tercintanya itu merantau ke Malaysia setelah kondisi ekonomi keluarganya tidak menentu. Dengan harapan hidup lebih baik, dia memilih merantau ke Malaysia. Rupanya perpisahan pasangan suami istri ini beberapa waktu lalu adalah untuk selama-lamanya.
Sebelum dimakamkan di Pattalassang-Takalar, Ketua Demokrat Makassar, Adi Rasyid Ali menyempatkan diri melayak keluarga korban, termasuk beberapa korban lainnya. Kepada keluarga korban, Adi menyalurkan bantuan tunai kepada keluarga korban.
"Untuk kebutuhan sembako sejak kemarin kita sudah salurkan kepada korban. Makanya, hari ini saya menyalurkan bantuan dalam bentuk uang tunai," kata Adi. (hamsah umar)