Powered By Blogger

Kamis, 25 Agustus 2011

Berkas Fransisco-Stefani di Kejaksaan


MAKASSAR--Berkas dua tersangka kasus sabu-sabu yang melibatkan pengusaha keturunan Tionghoa, Fransisco Tandiary dan Stefani Arlina Wilar akhirnya dilimpahkan ke pihak Kejaksaan Negeri Makassar. Berkas kedua tersangka tersebut saat ini masih dipelajari oleh pihak kejaksaan.
Pelimpahan berkas dari penyidik Polres Pelabuhan ke Kejari Makassar itu disampaikan Kapolres Pelabuhan, AKBP Audy AH Manus, Kamis, 25 Agustus. Dia menjelaskan  bahwa, berkas tersebut diserahkan kepada jaksa karena penyidik menilai proses penyidikan di kepolisian sudah rampung.
"Berkasnya sudah kita limbahkan ke kejaksaan beberapa hari lalu, setelah semuanya kita anggap rampung. Saat ini, kita masih menuggu P21 dari pihak kejaksaan," ujar Audy.
Dalam kasus dugaan kepemilikan sabu-sabu ini, kedua tersangka di tangkap di Hotel Aswin, Jalan Gunung Latimojong Makassar. Saat digerebek oleh petugas kepolisian, keduanya sedang berdua di dalam kamar dan diduga telah melakukan pesta sabu-sabu. Kendati dalam penangkapan itu tidak ditemukan barang bukti berupa sabu-sabu, namun sejumlah peralatan yang digunakan untuk mengonsumsi sabu-sabu ditemukan polisi dalam kamar tersebut.
Terhadap kedua tersangka, saat ini polisi masih melakukan penahanan. Fransisco di tahan di sel Polres Pelabuhan, sementara Stefani dititip di sel Polsekta Wajo, karena di Polres Pelabuhan tidak ada sel khusus untuk tahanan perempuan. Dalam kasus pesta sabu-sabu ini, kedua tersangka dinyatakan positif mengonsumsi sabu-sabu berdasarkan hasil uji laboratorium forensik. (hamsah umar) 
               

Polres Perketat Pengamanan Pelabuhan


MAKASSAR--Aktivitas mudik di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar beberapa hari jelang Idulfitri semakin meningkat, baik yang berangkat maupun yang tiba. Kondisi itu memaksa jajaran Polres Pelabuhan meningkatkan pengamanan di pelabuhan tersebut.
Kapolres Pelabuhan, AKBP Audy AH Manus yang dikonfirmasi Kamis, 25 Agustus menjelaskan bahwa pengamanan di Pelabuhan itu dilakukan untuk meminimalisir potensi kriminalitas di wilayah pelabuhan. Pasalnya, dengan peningkatan aktivitas di pelabuhan, tidak tertutup kemungkinan terjadi aksi kriminal yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab.
"Untuk mengantisipasi kriminalitas yang mungkin terjadi, kita telah mendirikan posko pengamanan di sekitar pelabuhan. Selain itu, jumlah personil yang ditugaskan untuk melakukan pengamanan juga ditingkatkan dari biasanya," kata Audy.
Kalau selama ini pengamanan areal pelabuhan sepenuhnya dilakukan Polsekta Soekarno Hatta, saat ini petugas yang dilibatkan di pelabuhan merupakan gabungan dari sejumlah Polsekta di jajaran Polres Pelabuhan. Jumlah personil yang dilibatkan mencapai 30 orang. Petugas ini kata Audy, khusus bertugas mengamankan arus pergi dan tiba di pelabuhan. "Sehingga, baik pada saat penumpang naik ke kapal situasinya tetap lancar, begitu juga pada saat turun dari kapal," kata Audy.
Selain mengandalkan petugas kepolisian yang dibentuk Polres Pelabuhan, Audy menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan koordinasi yang baik dengan petugas keamanan di pelabuhan sendiri. Sehingga dengan sinergi yang baik ini, kinerja petugas dalam mengamankan arus mudik bisa berjalan dengan baik.
Selain peningkatan pengamanan di Pelabuhan, Audy juga menegaskan bahwa peningkatan pengamanan juga dilakukan di sekitar MTC serta Pasar Sentral. Di tiga titik ini, Audy menyebut bahwa semuanya berpotensi menimbulkan kerawanan aksi kriminalita. (hamsah umar)    
   
        

Kapolri Janji Proses Pelaku Penembakan


MAKASSAR, FAJAR--Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Timur Pradopo menegaskan akan menindak anggota polisi yang terbukti melakukan pelanggaran, dalam kasus penembakan yang mengakibatkan dua warga Morowali tewas.
Penegasan Timur itu disampaikan usai melakukan pengarahan bersama Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono terhadap perwira TNI dan Polri di Gedung Manunggal M Yusuf, Rabu, 24 Agustus.
Timur menegaskan bahwa, siapa pun pihak yang melakukan pelanggaran hukum dalam peristiwa itu akan diproses hukum sebagaimana mestinya. Yang pasti menurut dia, kasus penembakan di Pulau Tiaka, Dusun Kolo Bawah, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hukum.
"Masyarakat yang melakukan pelanggaran hukum akan kita proses sesuai aturan yang ada, begitu juga ketika polisi yang melakukan pelanggaran hukum, juga akan diproses. Jadi semuanya akan kita proses secara hukum," tegas Timur.
Yang pasti menurut dia, pihaknya saat ini sedang melakukan penyelidikan secara mendalam terhadap kasus penembakan yang mengakibatkan warga sipil tewas. Dari pihak kepolisian kata dia, tentunya telah menurunkan tim dari Propam untuk mengusut tuntas dugaan adanya pelanggaran yang dilakukan polisi dalam peristiwa berdarah ini. Melalui kerja tim Propam atau devisi disiplin polri inilah, polisi yang melakukan pelanggaran akan diproses.
Sebagaimana diketahui, aksi brutal di Pulau Tiaka, Morowali itu mengakibatkan dua warga sipil tewas diberondong peluri petugas. Korban tewas tersebut diketahui bernama Marten Datu Adam dan Yurifin. 
Kasus tersebut dipicu protes program Coorporate Social Responsibility  (CSR) JOB Pertamina Medco E&P Tomori, yang dinilai diskriminasi utamanya terhadap warga Dusun Kolo Bawah. Sebelum terjadi aksi brutal yang mengakibatkan warga sipil, sempat terjadi penyanderaan termasuk terhadap anggota kepolisian yang dilakukan oleh warga yang melancarkan aksi protes.
Kendati kapolri belum menyebut siapa-siapa anggota polisi yang telah dimintai keterangan terkait kasus ini, Timur menegaskan bahwa proses penyelidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya. 
Laporan yang diterima kapolri dari Polda Sulteng menyebutkan bahwa anggota polisi yang disandera oleh warga berlangsung sekitar enam jam. Selama dalam proses penyanderaan itu, warga melakukan perampasan terhadap senjata yang dibawa oleh anggota polisi yang disandera tersebut. Saat penyanderaan itulah, pihak kepolisian setempat meminta bantuan untuk mengatasi gejolak yang terjadi itu.
"Untuk mendatangkan bantuan itu, ada proses yang dilalui. Di situ ada perlawanan dari masyarakat dengan menggunakan senjata tajam, sehingga terjadi penembakan yang mengakibatkan warga setempat ada yang meninggal," jelas Timur.
Timur menyebutkan bahwa langkah penegakan hukum dalam kasus ini sudah berjalan, termasuk memproses pihak-pihak yang diduga terlibat di Gorontalo, baik masyaralat yang diduga kuat melakukan pelanggaran hukum, maupun terhadap anggota yang ditengarai melanggar dalam peristiwa berdarah itu.  
Soal dugaan adanya pelanggaran hukum dalam kasus ini, Timur menegaskan bahwa proses terhadap dugaan pelanggaran itu juga akan dilakukan. Apalagi menurut dia, Komisi Nasional (Komnas) HAM juga telah turun melakukan penyelidikan atas insiden yang merenggut jiwa warga sipil ini. "Kalau ada pelanggaran HAM juga diproses, karena Komnas HAM juga sudah bergerak terhadap kasus ini," ujar Timur.
Yang pasti menurut dia, pihak kepolisian belum bisa memastikan siapa saja aparat  kepolisian yang melakukan pelanggaran, karena menurutnya polisi masih melakukan penyelidikan dan penyidikan. Dalam kasus penembakan yang mengakibatkan dua warga tewas dan sejumlah orang lainnya terluka itu, pihak kepolisian sudah menetapkan sejumlah tersangka yang diduga kuat  melakukan pelanggaran hukum. (hamsah umar)    

Rabu, 24 Agustus 2011

Tingkatkan Sinergi TNI-Polri


MAKASSAR--Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono dan Kapolri, Jenderal Timur Pradopo melakukan pengarahan terhadap perwira TNI dan Polri di Gedung Manunggul Muh Yusuf, Rabu, 24 Agustus. Keduanya menegaskan bahwa sinergi antara TNI dan kepolisian harus lebih ditingkatkan, guna mengoptimalkan kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Menurut Agus, jika kedua kekuatan negara yakni TNI dan Polri disinergikan dengan baik, dipastikan akan mewujudkan kekuatan yang lebih baik utamanya dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Makanya, dia berharap kapolri dan jajarannya melakukan upaya lebih baik lagi dalam meningkatkan sinergi antara kepolisian dan TNI.
"Kalau dua kekuatan ini (TNI-Polri) disinergikan dengan baik, ini akan menghasilkan kekuatan yang sangat baik, sehingga hal-hal yang sifatnya mengganggu ketertiban, b isa kita atasi bersama," kata Agus Suhartono.
Dia menambahkan, TNI dan Polri harus mengubah paradigma yang ada selama ini. Misalnya saja ketika terjadi persoalan yang berhadapan langsung dengan masyarakat. TNI selama ini kata dia, sekadar melakukan pembantuan terhadap polri dalam  melaksanakan tugas pengamanan. Sementara dari pihak kepolisian, kadang masih enggan meminta bantuan kepada TNI ketiga berhadapan dengan masalah di tengah masyarakat.
"Ini yang perlu kita pahami bersama, bahwa meminta bantuan kepada TNI bukan berarti Polri tidak mampu menyelesaikan masalah yang ada. Tapi ini dimaksudkan untuk memperkuat atau mengoptimalkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang ada di tengah masyarakat," kata Agus.
Makanya, dia menegaskan, sinergi antara kepolisian dan TNI, masih perlu ditata dengan baik agar terjaling koordinasi yang lebih baik, guna bersama-sama menciptakan keamanan di tengah masyarakat. Sementara mengenai intelijen, Agus menegaskan bahwa tugas atau kerja intelijen  bukan untuk politik, namun semata-mata untuk mendukung kelancaran tugas-tugas TNI.
Sementara Kapolri, Jenderal Timur Pradopo juga menegaskan bahwa masalah sinergitas antara semua pihak baik TNI dan Polri merupakan salah satu poin penting dalam rangka menyukseskan pembangunan di segala bidang. "Untuk menjaga keamanan secara bersama, Polri dan TNI memang harus bersinergi, tanpa adanya sinergi yang baik, maka kita akan sulit untuk mewujudkan harapan ada," kata Timur.
Bahkan kapolri menegaskan bahwa sinergitas antara semua pihak menjadi salah satu masalah penting yang harus diperhatikan, guna mewujudkan pembangunan yang maju, adil, dan makmur pada berbagai sektor kehidupan. (hamsah umar)                      
     
     

Bocah 10 Tahun Delapan Jam Diculik


MAKASSAR, FAJAR--Sri Ayu Humaera Febriani dan Jihan Jalilah warga BTN Agraria, Kelurahan Karunrung, Kecamatan Rappocini, Makassar sempat membuat panik kedua orang tuanya. Kedua bocah yang baru berusia 10 tahun ini, diculik sekitar delapan jam oleh oknum tidak dikenal. Bocah tersebut sempat dibawa keliling ke daerah Antang pelaku menggunakan sepeda motor.
Tidak hanya dibawa keliling hingga ke wilayah Antang, barang berharga milik kedua korban juga diambil oleh pelaku seperti telepon seluler serta barang berharga lainnya. Untungnya, pelaku tidak sampai dianiaya  karena setelah barang miliknya diambil, pelaku menurunkannya dari sepeda motor.
Kasus dugaan penculikan itu berawal ketika korban bersama rekan-rekannya bermain di sekitar rumahnya. Tiba-tiba pelaku datang menanyakan alamat seseorang bernama Sarifuddin. Kedua korban maupun teman mainnya kompak menjawab tidak tahu. Meski menjawab tidak tahu alamat  yang dicari pengendara motor Jupiter ini, pelaku malah meminta kedua korban membantunya mencari alamat dimaksud.
Agar korban bisa menuruti pelaku, pelaku  memberi korban uang sebesar Rp5 ribu sebagai imbalan. Saat kedua korban tersebut dibawa pelaku menggunakan sepeda motor, salah seorang teman korban, Harmiati sempat membuntuti pelaku menggunakan sepeda milik korban.  "Kami sempat panik karena anak kami tidak pulang sampai magrib," ujar orang tua Jihan, Jamaluddin.
Menurut Jamaluddin, meski anaknya baru berusia 10 tahun, namun ketika bermain dan terlambat pulang, anaknya tersebut selalu memberi kabar melalui telepon. "Sementara saat kami telepon, dia sama sekali menjawabnya," katanya.
Setelah sekitar delapan jam tidak mendapat kabar keberadaan kedua bocah itu, orang tua kedua bocah tersebut sepakat melaporkan kasus itu ke kantor Polsekta Rappocini. Kedua bocah itu kemudian ditemukan di Jalan Tidung 10 sedang berjalan kaki. (hamsah umar)