Powered By Blogger

Selasa, 11 Oktober 2011

Sulitnya Mengungkap Pembobolan Instansi


KASUS pembobolan berangkas instansi pemerintahan maupun perusakan fasilitas ATM, sepertinya masih begitu sulit diungkap aparat kepolisian. Padahal, upaya pengungkapan kasus pembobolan instansi ini semestinya mendapat prioritas dan atensi khusus penyidik kepolisian.
Betapa tidak, pembobolan berangkas instansi pemerintahan ini boleh dikatakan pembobolan terhadap uang milik rakyat. Pasalnya, uang yang dibobol pelaku tersebut diperoleh dari masyarakat. Namun rupayanya, atensi kepolisian untuk mengungkap kasus pembobolan seperti ini belum maksimal.
Ini bisa dilihat dengan minimnya pengungkapan yang dilakukan polisi terhadap berbagai kasus pembobolan instansi di daerah ini, utamanya di kota Makassar. Dari sejumlah kasus seperti pembobolan kantor pemerintahan, pembobolan kampus, hingga perusakan ATM milik bank sejauh ini masih minim.
Dilihat dari segi kerugian yang ditimbulkan akibat pembobolan berangkas instansi, maupun perusakan atau pembobolan ATM, dapat dipastikan nilainya sangat besar mulai angka puluhan juta hingga ratusan juta. 
Beberapa kasus pembobolan yang sejauh ini belum ada kejelasan seperti pembobolan berangkas kantor Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) Sulsel sebesar Ro250 juta, pembobolan kampus UNM, pembobolan berangkas Kementerian Agama Sulsel, perusakan ATM BCA di depan kampus UIT, dan sejumlah kasus pembobolan kampus lainnya.
Di tengah sejumlah kasus yang belum terungkap itu, muncul lagi kasus pembobolan dan perusakan ATM yang terjadi di ruang Bendahara Pembantu Rektor III Unhas, dimana jumlah uang yang dibawa kabur maling mencapai Rp70 juta, serta perusakan fasilitas ATM BNI di BTP beberapa hari lalu.
Kasus terakhir ini tentu saja akan menjadi ujian terhadap profesionalisme penyidik kepolisian dalam mengungkap kasus pembobolan instansi di Makassar. Karena boleh jadi, kasus tersebut kembali gagal diungkap. Apalagi berdasar catatan pihak Rektorat Unhas, beberapa kasus pembobolan di gedung rektorat belum ada yang berhasil diungkap.
Salah satu kendala yang dihadapi polisi dalam mengungkap kasus pembobolan berangkas kantor pemerintahan, dan ATM perbankan, karena sulitnya mendapatkan alat bukti serta saksi-saksi. Kendati hingga sekian lama kasus tersebut tidak terungkap pelakunya, namun pihak kepolisian mengaku tidak sampai disitu. Polisi akan terus melakukan penyelidikan guna melakukan pengungkapan.
"Jadi kendalanya memang terletak pada alat bukti dan saksi-saksi di lapangan. Tapi, polisi akan terus berupaya untuk mengungkap setiak aksi kejahatan, sekalipun memang penyidik membutuhkan waktu lama," jelas Wakapolrestabes Makassar, AKBP Endi Sutendi.
Selain itu, pelaku kejahatan utamanya yang melakukan pembobolan instansi pemerintahan semakin rapi dalam menjalankan aksinya. Aksi kejahatan yang semakin modern membuat bukti yang diperlukan sulit diperoleh. "Karena ada kecenderungan pelaku kejahatan seperti ini, berusaha keras menutut diri untuk menghindari petugas. Dalam menjalankan aksinya, dia juga berusaha sebaik mungkin menghilankan jejak," tambah Endi.
Belum lagi, pelaku kejahatan tersebut juga pintar memanfaatkan momen dalam menjalankan aksinya, sehingga dalam beroperasi mereka sulit diketahui oleh masyarakat. Dengan keterbatasan saksi yang bisa dimintai keterangan polisi ini, sehingga proses pengungkapan pembobolan instansi pemerintahan terkesan membutuhkan waktu.
Terhadap kasus pembobolan berangkas PR III Unhas beberapa waktu lalu, penyidik Polsekta Tamalanrea menegaskan akan tetap melakukan penyelidikan secara maksimal untuk mengungkap kasus tersebut. "Proses penyelidikan tetap kita lakukan, dan kita berharap bisa diungkap pelakunya," kata Panit II Polsekta Tamalanrea, Iptu Surono H Wata. (hamsah umar)          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar