Powered By Blogger

Jumat, 14 Oktober 2011

Sentuhan Tiga Bengkel


MEMAKSIMALKAN performa dan tampilan mobil, terkadang mengharuskan sentuhan tangan-tangan terampil dan profesional. Tidak hanya mengandalkan satu bengkel, tapi membutuhkan banyak bengkel guna menyempurnakan hasil yang diharapkan.
Ini pula yang menjadi pilihan A Taufiq Yunus dalam melakukan modifikasi dan desain mobilnya. Mobil Honda Jazz miliknya ini harus keluar masuk di tiga bengkel berbeda di Makassar dan Jakarta. 
Untuk perubahan perangkat mesinnya, Taufiq menggunakan jasa bengkel di Jakarta. Kemampuan dan keterampilan pemilik bengkel dalam  merakit mesin, menjadi alasan dia untuk merakit mesin di Jakarta. "Kita tidak meragukan lagi kalau mesin di rakit di Jakarta. Performanya dijamin tidak mengecewakan," kata Taufiq.
Sementara untuk desain interior dan eksteriornya, Taufiq memanfaatkan jasa Surabaya Motor dan Buana Sakti di Makassar. Di dua bengkel inilah desain audio, interior, dan eksterior dilakukan. Dengan menggunakan  jasa tiga bengkel berbeda itu, Taufiq mengaku mobil cukup sempurna.
"Untuk audio, secara umum sangat simpel karena memang tidak dimaksudkan untuk menonjolkan audionya. Mobil dengan konsep racing memang tidak cocok kalau menggunakan perangkat audio berlebihan seperti memasang televisi," kata Taufiq. (hamsah umar)                       

Simpel dan Memuaskan


MODIFIKASI audio pada mobil pribadi tidak harus dilakukan secara ekstrem, dengan memberikan banyak perangkat audio plus interior. Desain simpel juga banyak menjadi pilihan, apalagi konsep desain ini juga tetap mampu  memberikan kepuasan.
Desain simpel dengan tetap memberikan jaminan kepuasan menjadi ciri dari mobil Jazz yang satu ini. Pemilik mobil, A Taufiq Yunus mengaku cukup puas dengan kondisi audio mobilnya yang simpel dan sederhana. Meski dengan desain sederhana, kualitas musik yang dihasilkan tetap sempurna.
"Intinya bagaimana kita bisa merasakan kepuasaan. Sekalipun desainnya sederhana, tapi kita bisa menikmati audio dengan baik," ujar Taufiq.
Beberapa perangkat audio yang dibenamkan pada mobil yang satu ini seperti subwoofer merek kicker dua unit, amplifier Phonix Gold dan ADX-485, kapasitor Simbion dua unit, serta beberapa speaker. Desain audio yang simpel ini menyesuaikan dengan konsep racing yang ada pada mobil ini. (hamsah  umar)
      
          

Kamis, 13 Oktober 2011

BEM MIPA Unhas Segera Diperiksa


MAKASSAR, FAJAR--Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unhas, utamanya panitia Program Reformasi Pola Pikir dan Pola Sikap (Progresip), segera diperiksa penyidik Polrestabes Makassar.
Panitia ospek dengan nama baru ini, akan dimintai keterangan polisi terkait dugaan kekerasan yang dilakukan panitia Progresip, terhadap salah seorang mahasiswa baru Jurusan Kimia Fakultas MIPA Unhas, Awaluddin yang tewas Senin lalu. Pemeriksaan terhadap pengurus BEM MIPA Unhas ini akan dilakukan polisi, atas dugaan adanya tindak kekerasan terhadap  maba dalam masa pengkaderan utamanya kegiatan diluar kampus.
Proses penyelidikan kasus dugaan adanya tindak pidana dalam kegiatan ini hingga mengakibatkan maba asal Labessi, Soppeng meninggal ini saat ini diambil alih Polrestabes Makassar. Tadinya, penyelidikan kasus tersebut dilakukan Polsekta Tamalanrea,  namun untuk memaksimalkan proses penyelidikan kasus diambil alih Polrestabes Makassar.
Kapolsekta Tamalanrea, Kompol Amiruddin yang dikonfirmasi menjelaskan bahwa, pihaknya telah memeriksa saksi utamanya dari keluarga korban. Kemarin, pihaknya sudah memeriksa paman korban yang juga tetangga korban di BTP Blok H, Sudarman. 
"Itu yang sementara ini kita telah periksa, sebelum kemudian berkas kasus ini  kita limpahkan ke Polrestabes. Jadi saat ini proses penyelidikan dilakukan di sana," ujar Amiruddin.
Awalnya, penyidik Polsekta Tamalanrea sudah menjadwalkan pemeriksaan terhadap tiga orang maba Fakultas MIPA Unhas,  yang belakangan diketahui mengantar korban ke rumahnya pada hari terakhir kegiatan pengkaderan berlangsung.
Begitu juga, dua panitia pengkaderan sudah ada yang berencana dimintai keterangan. "Pemeriksaan terhadap orang yang sudah kita agendakan ini akan dilakukan di Polrestabes," tambahnya.                         
Dugaan bahwa korban tewas karena kekerasan atau pun kelelahan, tampaknya semakin memperkuat kecurigaan pihak keluarga korban termasuk keterangan maba yang menjadi rekan korban selama proses pengkaderan berlangsung. Amiruddin mengungkap, saat hari terakhir pengkaderan, korban diketahui dalam kondisi tidak sehat. 
Meski korban diketahui sakit atau kelelahan, namun panitia sama sekali tidak berinisiatif membawa korban ke rumah sakit, atau mengantarnya pulang ke rumahnya. Malah, korban diantar oleh tiga rekannya ke rumahnya.
"Jadi yang mengantar korban pulang ke rumahnya adalah tiga orang maba. Ketiga maba ini juga akan dimintai keterangan seperti apa sebenarnya kondisi korban saat itu," tambah Amiruddin.
Dalam kasus kematian maba ini, keterangan sejumlah panitia berbeda-beda. Ada yang mengakui korban mengeluh sakit mag, kendati tidak pernah direkomendasikan mendapat perawatan ke rumah sakit. Salah seorang panitia yang menyebut korban mengeluh mag adalah Faharuddin, penanggung jawab kegiatan.
Sementara, Budiman-pengurus BEM MIPA Unhas menegaskan korban tewas tersebut tidak pernah mengeluh sakit, termasuk berdasar pemeriksaan tim media panitia. Begitu korban ditanya, Budiman mengaku kalau korban selalu menjawab sehat.
Wakapolrestabes Makassar, AKBP Endi Sutendi didampingi Kabag Ops Polrestabes Makassar, AKBP Hotman Sirait menegaskan bahwa sejumlah saksi sudah diagendakan untuk diperiksa penyidik. "Segera saksi-saksi kita periksa," kata Endi. (hamsah umar)        

Narkoba Senilai Rp12 Miliar Dimusnahkan Polda


*Milik Ho Ka Che

MAKASSAR, FAJAR--Barang bukti sabu-sabu seberat 6 kilogram (6.089 gram) senilai Rp12 miliar, milik warga asing kebangsaan Hongkong, Ho Ka Che dimusnahkan Polda Sulsel, Kamis, 13 Oktober. 
Barang terlarang ini dimusnahkan langsung Kapolda Sulsel, Irjen Johny Wainal Usman disaksikan Humas Pengadilan  Negeri Makassar, Makmur, petugas Bea Cukai dan Laboratorium Forensik di halaman kantor Polda Sulsel. Barang bukti tersebut dimusnahkan setelah penyidik Direktorat Narkoba Polda Sulsel gagal menangkap Ho Ka Che setelah berjalan tiga bulan lebih.
Johny menegaskan, proses pemusnahan sabu-sabu tersebut dilakukan polisi setelah melalui berbagai prosedur, termasuk penetapan dari Pengadilan Negeri Makassar. Dalam regulasi, barang jenis narkoba yang berhasil disita polisi, namun pemiliknya tidak ditemukan dianjurkan untuk segera dimusnahkan. 
Johny menegaskan bahwa proses pengejaran terhadap Ho tetap dilakukan penyidik Polda Sulsel. Yang pasti menurut dia, pemusnahan barang bukti dilakukan dengan keamanan barang terlarang tersebut, karena bisa saja barang bukti itu hilang atau berkurang meski diamankan di kantor polisi.
Terhadap Ho Ka Che yang sudah ditetapkan sebagai DPO oleh Polda Sulsel, Johny mengaku kalau sejauh ini penyidik belum bisa melacak jejak tersangka. Bahkan, polisi sama sekali tidak memiliki informasi pasti apakah tersangka sudah meninggalkan Indonesia atau masih berada di dalam negeri. Yang pasti, jauh sebelum sabu-sabu tersebut dimusnahkan, Polda Sulsel sudah memastikan tersangka sudah meninggalkan Makassar melalui jalur darat.
"Kita tidak bisa pastikan apakah sudah di luar negeri atau masih di Indonesia. Jangan sampai kita dicurigai lagi bekerja sama. Yang jelas, tersangka masih kita kejar dan cari," tegas Johny.
Meski polisi sudah melakukan upaya pencegahan termasuk kerja sama dengan pihak imigrasi, termasuk koordinasi dengan Mabes Polri terkait buronan narkoba Polda ini, namun polisi tetap saja tidak bisa  melacak keberadaan tersangka. Ada dugaan polisi tidak begitu sirius melakukan pengejaran terhadap tersangka. Apalagi tersangka ditengarai hanya menggunakan jalur darat melarikan diri, sehingga butuh lebih banyak waktu untuk melakukan pengejaran.
Terhadap penegakan hukum utamanya dalam pemberantasan narkoba, Johny menegaskan  bahwa pihaknya tetap berkomitmen tinggi memberantas kasus peredaran narkoba di Sulsel, termasuk komitmen untuk mengejar Ho Ka Che.
"Apalagi narkoba termasuk jenis sabu-sabu ini sangat berbahaya dan bisa merusak generasi muda kita. Makanya, komitmen kita untuk melakukan pemberantasan tetap menjadi prioritas kita," kata Johny. (hamsah umar)                        

Pengelola Makassar Mall Dikeroyok Kepala Pasar


MAKASSAR, FAJAR--Direktur PT Anugerah Bahana Citra (ABC), Ahmad Ibrahim melaporkan Kepala Pasar Sentral atau Makassar Mall, Jaenuddin ke Polres Pelabuhan dengan tuduhan pengeroyokan, Kamis, 13 Oktober.
Saat melaporkan pengeroyokan  yang dilakukan Jaenuddin bersama anak buahnya itu, Ahmad didampingi Ketua Asosiasi Pedagang Makassar Mall, M Sahib serta beberapa pedagang lainnya. Korban pengeroyokan juga langsung melakukan visum ke rumah sakit. 
Peristiwa pemukulan terhadap pengelola Makassar Mall yang dilakukan Jaenuddin dan anggotanya itu terjadi sekira pukul 12.30 siang kemarin. Menurut Ahmad, dirinya sempat diseret pelaku bahkan saat terjatuh di aspal, pelaku tetap  melakukan penganiayaan. "Saya tidak bisa bergerak, karena dari arah belakang, kanan, dan kiri saya dirangkul. Sementara dari arah depan saya dipukuli," ujar Ahmad.
Dia mengungkap, penganiayaan yang dialaminya berawal saat  korban bersama Sahib datang menyaksikan rencana penertiban pedagang yang dilakukan Kepala Pasar  bersama anggotanya. Tapi saat akan melakukan penertiban itu, kepala pasar dan aparatnya dianggap berlebihan sehingga mendapat protes dari pedagang. Begitu terjadi protes pedagang, korban dan Sahib datang ke lokasi.
"Saya cuma sampaikan agar penertiban pedagang dilakukan dengan baik tidak dengan cara kasar. Di situ dia marah karena dianggap saya ikut campur. Dari situlah saya dikeroyok," kata Ahmad.                    
Ketua APMM, M Sahib yang mendampingi korban melapor ke Polres Pelabuhan menyesalkan aksi pengeroyokan yang dilakukan kepala pasar dan aparatnya. Dia juga mempertanyakan penertiban pedagang yang dinilai tidak berdasar. "Kalau  mau menertibkan semua,  jangan hanya orang per orang. Ini terkesan kepala pasar ini sentimen terhadap pedagang tertentu," kata Sahib.
Atas insiden itu, Sahib bahkan mendesak Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin untuk bertindak atas arogansi yang diperlihatkan aparatnya. "Kalau perlu kepala pasar ini dicopot karena memang pedagang sudah tidak suka dengan ulahnya. Banyak pedagang yang mengeluh karena dibebankan pembayaran saat mengurus surat keterangan kebakaran dan pedagang resmi," kata Sahib.
Kapolres Pelabuhan, AKBP Audy Alfrits Herman Manus yang dikonfirmasi menegaskan bahwa kasus dugaan pengeroyokan tersebut akan diproses sebagaimana  mestinya. "Yang namanya laporan pasti kita tangani. Cuma saya belum tahu seperti apa masalahnya, karena belum melihat laporan resminya," kata Audy. (hamsah umar)